Inovasi Pengelolaan Sampah di Lamongan: Program Samtaku Tuai Apresiasi

Kabupaten Lamongan telah berhasil menarik perhatian dengan inovasi dalam pengelolaan sampah melalui program “Sampahku Tanggung Jawabku” (Samtaku). Program ini, yang merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lamongan dengan PT Danone dan PT Rucika Solusi Indonesia, menuai apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak.

Dalam kunjungannya ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Samtaku di Lamongan pada Hari Lingkungan Hidup, Emil Dardak mengungkapkan kekagumannya terhadap capaian tersebut. Menurutnya, Lamongan telah menunjukkan prestasi yang luar biasa dalam mengatasi masalah sampah, yang merupakan salah satu tantangan utama dalam kehidupan sehari-hari. Emil menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya selesai ketika sampah dibuang ke tempat sampah, tetapi memerlukan proses panjang yang melibatkan banyak upaya.

Emil juga menyampaikan pandangan bahwa penambahan jumlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukanlah solusi jangka panjang. Sebaliknya, prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle) harus diadopsi secara lebih luas untuk mengurangi beban sampah. Ia berharap, inspirasi dari Lamongan dapat diterapkan di daerah lain, seperti Bali, dengan target pengurangan sampah hingga 70% di TPA bahkan hingga 0%.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, turut menjelaskan bahwa program Samtaku telah berhasil mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, dengan hanya menyisakan sekitar 15-20% residu. Bupati Yes juga mengumumkan rencana untuk mereplikasi TPST Samtaku di kecamatan lain seperti Babat dan Paciran. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi dengan PT Danone dan PT Rucika yang telah mendukung keberhasilan program ini.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakrullah, mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknologi dan media sosial dalam mempromosikan gerakan “Sampahku Tanggung Jawabku”. Ia menekankan pentingnya menciptakan momentum dan peluang untuk mengimplementasikan gerakan ini secara lebih luas di masyarakat.

Program Samtaku di Lamongan menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat memberikan solusi inovatif dan berkelanjutan dalam menangani permasalahan sampah.