Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menerima setiap anak tanpa syarat — termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Inilah gagasan utama yang melatarbelakangi lahirnya inovasi PELANGI (Peduli Memberikan Layanan dan Gotong Royong Membangun Inklusi) yang diterapkan di SDN Tlogoanyar, Kabupaten Lamongan.
Berangkat dari kenyataan bahwa banyak sekolah dasar belum siap mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), PELANGI hadir untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, adil, dan penuh kepedulian. Inovasi ini dirancang dengan prinsip gotong royong: melibatkan guru, siswa, dan orang tua dalam membangun ekosistem pendidikan yang menerima keberagaman.
Program ini dimulai dengan pelatihan guru, pemetaan kebutuhan ABK, serta penyusunan kurikulum berdiferensiasi. Dalam pelaksanaannya, ABK didampingi secara personal, terlibat dalam kegiatan sekolah, dan mendapatkan dukungan dari teman-teman mereka melalui sistem mentoring sebaya. Orang tua juga diajak aktif melalui kegiatan parenting yang mendorong keterlibatan lebih besar dalam pendidikan anak.
Salah satu keunikan dari PELANGI adalah pendekatannya yang menyentuh sisi emosional dan sosial siswa. Siswa reguler belajar berempati dan menjadi bagian dari proses pendampingan, sementara ABK mendapatkan ruang untuk tumbuh dengan rasa percaya diri dan kebahagiaan.
Hasilnya pun menggembirakan: keterlibatan ABK dalam kegiatan sekolah meningkat secara signifikan, kebutuhan akan pendamping khusus menurun, dan kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah melonjak tajam. Sekolah menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan terbuka bagi semua anak tanpa kecuali.
PELANGI membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi praktik nyata yang bisa ditumbuhkan melalui rasa peduli, kerja sama, dan komitmen bersama. Inovasi ini memberi inspirasi bahwa perubahan menuju pendidikan yang adil dan ramah anak dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana namun berdampak besar.