Sentra Penggelondongan Bandeng Lamongan: Meningkatkan Potensi Perikanan dan Ekonomi Lokal

Kabupaten Lamongan dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi perikanan budidaya yang sangat besar di Indonesia. Pada tahun 2021, Kabupaten Lamongan memiliki lahan budidaya tambak seluas 932,29 hektar, sawah tambak seluas 19.503,54 hektar, karamba seluas 0,20 hektar, dan kolam seluas 51,35 hektar. Dari luas lahan tersebut, tercatat ada 27.788 rumah tangga perikanan (RTP) yang mampu menghasilkan produksi budidaya sebesar 62.742,6 ton.

Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Kabupaten Lamongan adalah ikan bandeng. Pada tahun 2021, produksi ikan bandeng mencapai 22.333,5 ton, menempatkannya di posisi teratas dalam jumlah produksi perikanan budidaya, diikuti oleh udang vannamei dan ikan nila. Kebutuhan benih bandeng (nener) di Lamongan pada tahun tersebut adalah sebesar 192,03 juta ekor. Desa Wangen di Kecamatan Glagah menjadi salah satu lokasi utama penyedia benih bandeng ukuran gelondongan terbesar di Lamongan.

Desa Wangen memiliki keunggulan tersendiri dengan ketersediaan sumber air yang cukup untuk melakukan kegiatan penggelondongan sepanjang tahun. Kegiatan ini dilakukan oleh sekitar 40 orang di lahan seluas 16,8 hektar, menghasilkan produksi gelondongan bandeng sebesar 11,21 juta ekor atau sekitar 5,8% dari kebutuhan benih bandeng di Kabupaten Lamongan pada tahun 2021.

Melihat potensi besar yang dimiliki Desa Wangen, pemerintah setempat melalui Keputusan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan Nomor: 188/09/413.113/2022, menetapkan Sentra Penggelondongan (SeGo) Bandeng Lamongan sebagai pusat pengembangan benih bandeng. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran, membentuk kelompok pembudidaya ikan yang kuat, serta memperbaiki infrastruktur di sekitar sentra penggelondongan.

Dengan adanya SeGo Bandeng Lamongan, diharapkan kualitas benih bandeng meningkat, yang akan berdampak pada peningkatan kuantitas dan kualitas produksi ikan bandeng konsumsi. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup benih ukuran gelondongan pada masa pembesaran lebih tinggi, yaitu sekitar 80-90%, dibandingkan dengan benih ukuran nener yang hanya sekitar 50%.

Inovasi ini juga mendorong pemasaran benih bandeng menggunakan media sosial untuk memperluas jaringan pemasaran dan kemitraan. Pelatihan dan pemberdayaan bagi pelaku usaha penggelondongan bandeng juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, sehingga mereka menjadi lebih unggul, berdaya saing, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Hasil yang diharapkan dari inovasi ini adalah terwujudnya kemandirian daerah, peningkatan perekonomian, dan pertumbuhan lapangan kerja. Dengan optimalisasi potensi unggulan daerah yang dimiliki, SeGo Bandeng Lamongan dapat dijadikan contoh bagi daerah lain yang memiliki potensi penggelondongan bandeng, terutama bagi wilayah-wilayah dengan ketersediaan sumber air yang cukup. Diversifikasi usaha budidaya berupa penggelondongan bandeng dalam berbagai ukuran juga diharapkan dapat memperluas area pemasaran benih bandeng dan meningkatkan segmentasi pasar, menjadikan gelondongan bandeng sebagai salah satu produk andalan Kabupaten Lamongan.