Dalam upaya mengatasi masalah stunting yang masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Lamongan, Puskesmas Bluluk meluncurkan inovasi "Tarek Mas E Megilan" (Terpadu Atasi Stunting Melalui Manajemen Gizi, Pemantauan Pertumbuhan, MTBS, Pemeriksaan Gigi dan Kesehatan Lingkungan). Program ini dirancang untuk menangani stunting dengan pendekatan yang menyeluruh, memadukan intervensi gizi spesifik dan sensitif guna meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan balita.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Fenomena ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak tetapi juga perkembangan otaknya, dengan dampak jangka panjang berupa risiko penyakit kronis di masa depan. Stunting diperkirakan mengurangi 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Meskipun upaya telah dilakukan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa sekitar 30,8% balita di Indonesia mengalami stunting, menjadikannya sebagai masalah kesehatan yang mendesak.
Program Tarek Mas E Megilan dimulai dengan pemeriksaan status gizi balita dan pre-test untuk menilai pengetahuan ibu mengenai pemberian makanan yang tepat. Pelatihan bagi ibu tentang manajemen gizi dan pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan salah satu fokus utama dari program ini. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan kesehatan, skrining TB, dan anemia untuk memastikan tidak ada penyakit penyerta yang dapat memperburuk kondisi stunting.
Dalam rangka memastikan kesehatan mulut balita, pemeriksaan dan edukasi gigi juga menjadi bagian penting dari intervensi ini. Selain itu, cooking class diadakan untuk meningkatkan keterampilan ibu dalam mengolah bahan makanan lokal menjadi makanan bergizi serta pemanfaatan lahan pekarangan untuk tanaman produktif sebagai sumber pangan tambahan.
Kegiatan Tarek Mas E Megilan juga mencakup kunjungan rumah untuk menilai kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan. Edukasi mengenai pola asuh dan pentingnya imunisasi diberikan untuk memperkuat pemahaman orang tua. Pengukuran antropometri dilakukan untuk mengevaluasi status gizi balita setelah intervensi, diikuti dengan konseling gizi untuk memastikan perubahan positif.
Inovasi ini diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Lamongan dengan mengintegrasikan berbagai aspek kesehatan dan gizi. Melalui kolaborasi lintas sektor dan program-program terkoordinasi, Tarek Mas E Megilan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan balita, memberdayakan ibu, dan akhirnya, mengurangi angka stunting secara signifikan di wilayah Puskesmas Bluluk.